PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI
Resume ke-7, Gelombang 27
Senin, 5 September 2022
Mengatasi Writer’s
Block
Oleh
Ditta Widya Utami, S.Pd.,Gr.
Saat sedang menulis, tiba-tiba mengeluh seperti ini, “Selanjutnya nulis apa
yaa?” “Kok buntu sih,” “Haduuh kok ga
ada ide yaa?” atau bahkan hanya bengong di depan laptop sambil garuk-garuk
kepala, ide seolah menghilang?pergi entah kemana.
Jika ini pernah dialami, berarti kita sedang terserang virus WB.
WB adalah singkatan dari Writer’s Block. Istilah ini dipopulerkan pertama kali oleh psikoanalisis Edmund Bergler : writer's block.
Writer’s Block adalah keadaan saat penulis kehilangan kemampuan menulis atau tidak menemukan gagasan baru untuk tulisannya (Wikipedia).
Writer's block bisa menyerang siapapun baik penulis pemula maupun professional dan bisa
menyerang siapapun. Writer's block umumnya tidak disebabkan oleh
masalah komitmen/kompetensi menulis. Adapun tanda-tandanya kita terserang writer’s block ialah sulit fokus, tidak ada
inspirasi menulis, menulis lebih lambat dari biasanya, atau merasa stres dan
frustasi. Writer’s block bisa menjangkit dalam hitungan menit, jam,
minggu, bulan, atau bahkan bisa bertahun-tahun. Untuk
mengatasinya, ada berbagai cara yang dilakukan misalnya beristirahat,
jalan-jalan, membaca, menulis, makan, melihat you tube, dsb.
Oleh karena itu, agar mampu mengatasi writer’s
block, kita harus mengetahui penyebabnya. Menurut Ibu Ditta, ada beberapa
hal yang dapat menyebabkan writer’s block
1.
Mencoba
metode/topik baru dalam menulis.
Contoh, ketika seseorang mencoba menulis puisi, padahal
tadinya senang menulis karya tulis ilmiah. Mungkin kemampuan menulisnya akan sangat sangat melambat karena puisi
memiliki karakternya sendiri dan memiliki metode penulisan yang
berbeda. Oleh karena itu, kita harus terus
mempelajari teknik dan banyak berlatih dan terus belajar tentang menulis puisi untuk
meminimalkan writer’s block.
2.
Stres
Dalam
sebuah jurnal berjudul “Stres dan Solusinya dalam Perspektif Psikologi dan
Islam” yang ditulis oleh Admin dan Himmma (2019) disebutkan bahwa stres adalah
respon tubuh yang diakibatkan karena adanya tuntutan dari luar diri individu
yang melebihi kemampuan dalam memenuhi tuntutan untuk mengatasi dan
menyelesaikan masalah tersebut. Meski stres menjadi salah satu sebab datangnya
WB, sebetulnya menulis pun bisa menjadi salah satu obatnya. Dalam dunia
psikologi, dikenal dengan istilah "Menulis Ekspresif." Dimana
orang-orang dengan kasus tertentu akan diminta untuk menulis ekspresif.
Menuliskan pengalaman traumatisnya, serta 'perasaan' pada saat atau setelah
mengalami hal tersebut. Berbagai penelitian menunjukkan orang yang menulis
ekspresif akan memiliki kesehatan mental yang lebih baik.
3.
Terlalu
perfeksionis
Terlalu perfeksionis dapat menghilangkan kreativitas karena rasa ingin sempurna bisa membawa kita memiliki pemikiran yang negatif.
“Kita adalah
manusia biasa. Wajar bila masih salah. Wajar bila masih takut. Namun, meski
demikian, dalam setiap kita ada keberanian yang sungguh apinya membara. Jaga semangat
itu untuk tetap berkarya, salah satunya melalui tulisan-tulisan kita. Yakinlah,
bahwa tulisan kita akan bermanfaat bagi orang lain. Minimal, untuk diri kita. Tetap
semangat menulis. Mari menjadi pembelajar seumur hidup,” tutur Ibu Ditta.


No comments:
Post a Comment