Thursday, October 20, 2022

 

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI

 Resume ke-24, Gelombang 27

Jumat, 14 Oktober 2022


Menulis di Kala Sakit

Oleh

Suharto, M.Pd.

Sehat adalah nikmat yang sangat luar biasa. Sehat adalah anugerah dari Allah yang perlu kita syukuri. Dengan tubuh dan pikiran yang sehat, kita akan bisa beraktivitas seperti biasa bebas tanpa terhalang rasa sakit. Namun, kadang Allah menguji hambanya dengan sakit. Dengan mengalami sakit, kita bisa bersyukur dan tidak lupa akan nikmat yang Allah berikan selama ini. Adapun kebaikan yang kita dapatkan ketika sakit adalah sbb.

1.        Mendapat ridha Allah

2.        Terhapusnya dosa dan diangkat penyakitnya

3.        Pahala yang tetap mengalir

4.        Kecintaan Allah dan pahala tanpa batas ketika bersabar

Tidak ada segala sesuatu yang datang menimpa diri kita kecuali terjadi atas izin dari-Nya. Hendaknya kita memahami bahwasannya sakit merupakan ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu, kita perlu menanamkan pada diri kita, bahwa akan ada kebaikan dan hikmah di balik musibah sakit. Ketika sakit menimpa diri kita, hendaklah kita berbaik sangka kepada Allah Ta’ala. Ujian sakit yang kita alami adalah bentuk kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302).

Ujian sakit juga dialami oleh Bapak Suharto, M.Pd. atau yang akrab disapa dengan Cing Ato. Cing Ato salah satu orang yang sangat menginspirasi dalam dunia menulis. Karena kecintaannya pada dunia tulis menulis membuat hidupnya lebih berkah. Bukti pada kecintaanya pada dunia tulis menulis adalah tetap menulis walau pun dalam keadaan sakit. Sakit yang membuatnya lumpuh bukan halangan untuk terus berbagi dan menginspirasi. Beliau adalah seorang yang tekun belajar walau pun dalam keadaan sakit. Beliau ingin selalu bermanfaat bagi orang lain walau kondisinya sedang sakit.

Pada awalnya, Cing Ato termasuk orang yang tidak bisa menulis. Oleh karena itu, tidak ada karya yang dihasilkan walaupun sudah menjadi guru selama puluhan tahun. “Saya menulis berawal karena butuh sebuah karya tulis, baik yang bersifat ilmiah maupun non ilmiah. Kebetulan saya seorang ASN. Dahulu kenaikan pangkat sangat mudah. Namun, ketika saya berada pada golongan IIId dan ingin naik golongan ke IVa persyaratan wajib harus mempunyai karya tulis ilmiah dan buku penunjang lainnya. Akhirnya saya mencari pelatihan menulis lewat medsos (Facebook). Ketika saya men-scroll FB ada pelatihan di Wisma UNJ yang diselenggarakan oleh komunitas sejuta guru ngeblog (KSGN) bertemulah saya dengan orang -orang hebat. Siapa mereka? Sudah tidak asing lagi bagi kita, yaitu: Bang Namin, Om Jay, Om Dedi, dan yang lainnya,” tutur Cing Ato.

Hampir tiga kali pelatihan, Cing Ato mengikuti kegiatan KSGN. Dari sinilah, Cing Ato  dapat kunci bagaimana caranya menulis. Pada pelatihan pertama, Cing Ato mendapatkan ilmu tentang menulis PTK. Pada pelatihan ke-2 sekitar tgl 27-29 Desember 2016 di Wisma UNJ, Cing Ato menulis buku Antologi perdana dengan judul Bukan Guru Biasa.


Pelatihan ke-3 tentang public speaking, kebetulan salah satu materinya tentang menulis dan narasumbernya Om Jay. Dari Om Jay, Cing Ato menemukan kunci bagaimana menulis. Cing Ato bertanya kepada Om Jay tentang bagaimana cara memulai untuk menulis? Apa yang harus ditulis? Dan bagaimana cara mengakhiri sebuah tulisan?

Om Jay menjawab, “Tulis apa yang ada disekitar kita, tulis apa yang kita bisa, tulis materi yang kita kuasai, tulis apa yang kita alami, ide menulis banyak berserakan di sekitar kita, tulis dengan bahasa yang sederhana yang penting pesannya tersampaikan, dan lainnya.

Pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan terpilih yang mewakili keinginan Om Jay sehingga Cing Ato mendapat hadiah dari Om Jay.

 Pulang dari pelatihan, Cing Ato menulis apa yang bisa dan dialaminya. Hampir setiap hari menulis satu artikel.  Sambil menulis, Cing Ato tidak berhenti mencari Pelatihan menulis lagi lewat medsos. Pada tanggal 27-29 Desember 2017, Cing Ato mengikuti pelatihan di Cipanas, Jawa Barat. Pelatihan tersebut diselenggarakan oleh komunitas menulis Media Guru. Hampir dua tahun berturut-turut, Cing Ato berkelana mencari ilmu tentang menulis dan meninggalkan anak dan istri dengan biaya lumayan. Dari pelatihan ini terbitlah buku solo perdana dengan judul "Mengejar Azan" buku perdana ini, Cing Ato meminta teman untuk melukisnya, lalu diberikan bingkai dan  diletakkan di depan meja kerjanya.


”Sebuah kebahagiaan tersendiri buat saya, bangga rasanya mempunyai buku. Teman-teman banyak yang mengapresiasi dan membeli buku perdana saya.”

Namun, kebahagiaannya sirna begitu saja. Bagaimana tidak, dengan hitungan jam, tubuhnya lunglai, semua syaraf mati, seluruh tubuh tidak bergerak, lidah tertarik, urat wajah pun tertarik, suara hilang, dan nafaspun tidak bisa. Akhirnya nafas dibantu oksigen dan ventilator. Satu bulan 13 hari dirawat di ruang ICU. Dengan hitungan hari, tubuh yang besar lagi tingi tinggal tulang berbalut kulit. Banyak teman bilang sepertinya Cing Ato tidak ada harapan. Di ruang ICU tidak ada perubahan, lalu dipindah ke ruang yang lebih intensif, ruang HCU. Ditemani oleh 2 suster dan 1 dokter yang jaga. Hampir 3 bulan dirawat di ruang HCU. Dokter sudah pesimis dan mendiagnosa bahwa tidak akan lepas dari ventilator. Pihak rumah sakit ingin mengusir, tapi istrinya berjuang agar tidak diusir dari rumah sakit. Istri meminta sampai bisa lepas ventilator baru pulang. Tiba-tiba pada suatu malam, ventilator rusak. “Saya sudah pasrah jika malam itu dipanggil menghadap sang maha kuasa. Ternyata pagi-pagi saya masih hidup. Mungkin di antara penyebab saya masih bernafas karena ada doa dari orang-orang saleh,” tutur Cing Ato.

Setelah lepas ventilator, Cing Ato bisa pulang dalam kondisi memakai oksigen. Pulang dari rumah sakit masih dalam kondisi sakit. Cing Ato tidak bisa bergerak. Hampir satu tahun seluruh tubuh tak bergerak, setelah itu mulai satu persatu bergerak. Hari-hari hanya terbaring di tempat tidur. Jenuh, bosan, hampir saja stress. Ketika sedang melamun, tiba-tiba ada suara gawai istri yang tertinggal di rumah. Cing Ato meminta asisten rumah tangga untuk mengambilkan dan meletakkan di atas dada di alasi bantal lalu tempat tidurnya ditinggikan bagian kepala sehingga bisa melihat gawai. “Saya coba menyentuhnya, ternyata bisa. Saya sangat gembira. Ketika istri pulang ngajar langsung saya pinta gawai saya yang selama setahun lebih tidak pernah digunakan. Istri langsung membelikan kartu baru. Mulailah saya melacak Facebook, butuh waktu tiga hari baru terlacak password-nya.”

Sejak itu, Cing Ato menulis. Cing Ato menulis dengan satu tema, yaitu tentang motivasi hidup. Hampir setiap hari, Cing Ato selalu menulis. Malam mencari ide dan sesudah subuh menulisnya. Cing Ato tidak bisa tidur kalau belum ketemu ide.

Aktivitas Cing Ato mulai hari Senin sampai Jumat menulis motivasi. Sabtu dan Minggu menulis tentang apa yang sedang dialami dan rasakan. Semua tulisannya  dishare ke facebook. Banyak yang mengapresiasi dan menunggu tulisan Cing Ato berikutnya.  Om Jay  sempat kaget dengan apa yang Cing Ato posting di medsos. Om Jay vicol Cing Ato. Pada saat itu, suaranya belum jelas. Om Jay mengajaknya untuk ikut pelatihan menulis di gelombang 8. Cing Ato mengikuti dengan semampunya. Namun, Cing Ato tidak lulus karena tidak menyetor resume. Walaupun demikian, Cing Ato menyimpan materi pelatihan disimpan di blog dan wordpress. Setelah ada waktu senggang,  materi tersebut dijadikan buku.

“Alhamdulillah, dengan mengikuti pelatihan menulis PGRI menambah nutrisi tulisan saya lebih hidup,”ucap Cing Ato.

Akhirnya lahirlah buku perdana ketika sakit, dengan judul GBS Menyerangku. Secara bersamaan terbit buku kedua, judul Menuju Pribadi unggul; Seni Menata Diri. Buku ini di bawah bimbingan pak Akbar Zaenudin.

Selanjutnya secara estafet terbit buku-buku yang lainnya. Seperti buku motivasi, memor, cerpen, novel Betawi, tentang menulis, dan lainnya. Sampai hari ini sudah 12 buku solo yang berhasil diterbitkan. Buku yang ke-12,  berjudul Menulis di Kala Sakit. Masih ada dua yang belum diterbitkan,  calon buku ke -13 dan 14, yaitu : Catatan Harian Sang Guru dan Catatan Harian Guru Blogger Madrasah.

Adapun hikmah yang didapat Cing Ato Ketika menulis di kala sakit yaitu

1.     Kedatangan para youtuber (Chanel Akbar Zaenudin "Guru Inspiratif" dan Chanel Sutrisno Muslim "Kesempatan Kedua Mengubahku."

2.      Mendapatkan Penghargaan "Pahlawan Pendidikan" dari Bang Japar Jakarta.

3.      Menjadi Narasumber pelatihan menulis di  Komunitas belajar menulis di KSGN PGRI.

4.      Banyak punya teman hingga banyak yang bantu menerbitkan buku.

5.      Banyak teman ditempat kerja yang terinspirasi membuat buku.




No comments:

Post a Comment

  RANGKUMAN KESIMPULAN PEMBELAJARAN KONEKSI ANTARMATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERDASARKAN NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN...