PELATIHAN BELAJAR
MENULIS PGRI
Jumat, 14 Oktober 2022
Menulis di Kala Sakit
Oleh
Suharto, M.Pd.
Sehat adalah nikmat yang sangat luar biasa. Sehat adalah anugerah dari
Allah yang perlu kita syukuri. Dengan tubuh dan pikiran yang sehat, kita akan
bisa beraktivitas seperti biasa bebas tanpa terhalang rasa sakit. Namun, kadang
Allah menguji hambanya dengan sakit. Dengan mengalami sakit, kita bisa
bersyukur dan tidak lupa akan nikmat yang Allah berikan selama ini. Adapun
kebaikan yang kita dapatkan ketika sakit adalah sbb.
1.
Mendapat ridha
Allah
2.
Terhapusnya dosa
dan diangkat penyakitnya
3.
Pahala yang tetap
mengalir
4.
Kecintaan Allah
dan pahala tanpa batas ketika bersabar
Tidak ada segala sesuatu yang datang menimpa diri kita kecuali
terjadi atas izin dari-Nya. Hendaknya kita memahami bahwasannya sakit merupakan
ujian dan cobaan dari Allah Ta’ala. Oleh karena
itu, kita perlu menanamkan pada diri kita, bahwa akan ada kebaikan dan hikmah
di balik musibah sakit. Ketika sakit menimpa diri kita, hendaklah kita berbaik
sangka kepada Allah Ta’ala. Ujian sakit
yang kita alami adalah bentuk kecintaan Allah Ta’ala kepada
hamba-Nya. Hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ
“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302).
Ujian
sakit juga dialami oleh Bapak Suharto, M.Pd. atau yang akrab disapa dengan Cing
Ato. Cing Ato salah satu orang yang sangat
menginspirasi dalam dunia menulis. Karena
kecintaannya pada dunia tulis
menulis membuat hidupnya lebih berkah.
Bukti pada kecintaanya pada dunia tulis menulis adalah tetap menulis walau pun dalam
keadaan sakit. Sakit yang membuatnya lumpuh
bukan halangan untuk terus berbagi dan menginspirasi. Beliau adalah seorang yang tekun belajar walau pun dalam keadaan sakit. Beliau ingin selalu bermanfaat bagi
orang lain walau kondisinya sedang sakit.
Pada awalnya, Cing
Ato termasuk orang yang tidak bisa menulis. Oleh
karena itu, tidak ada karya yang dihasilkan walaupun sudah menjadi guru selama puluhan
tahun. “Saya menulis berawal karena butuh sebuah karya
tulis, baik yang bersifat ilmiah maupun non ilmiah. Kebetulan saya seorang ASN.
Dahulu kenaikan pangkat sangat mudah. Namun, ketika saya berada pada golongan
IIId dan ingin naik golongan ke IVa persyaratan wajib
harus mempunyai karya tulis ilmiah dan buku penunjang lainnya. Akhirnya saya
mencari pelatihan menulis lewat medsos (Facebook). Ketika saya men-scroll FB
ada pelatihan di Wisma UNJ yang diselenggarakan oleh komunitas sejuta guru
ngeblog (KSGN) bertemulah saya dengan orang -orang hebat. Siapa mereka? Sudah
tidak asing lagi bagi kita, yaitu: Bang Namin, Om Jay, Om Dedi, dan yang
lainnya,” tutur Cing Ato.
Hampir tiga kali
pelatihan, Cing Ato mengikuti kegiatan KSGN. Dari sinilah, Cing Ato dapat kunci bagaimana caranya menulis. Pada
pelatihan pertama, Cing Ato mendapatkan ilmu tentang menulis PTK. Pada
pelatihan ke-2 sekitar tgl 27-29 Desember 2016 di Wisma UNJ, Cing Ato menulis
buku Antologi perdana dengan judul Bukan Guru Biasa.
Pelatihan ke-3
tentang public speaking, kebetulan salah satu materinya tentang menulis
dan narasumbernya Om Jay. Dari Om Jay, Cing Ato menemukan kunci bagaimana
menulis. Cing Ato bertanya kepada Om Jay tentang bagaimana cara memulai untuk
menulis? Apa yang harus ditulis? Dan bagaimana cara mengakhiri sebuah tulisan?
Om Jay menjawab, “Tulis
apa yang ada disekitar kita, tulis apa yang kita bisa, tulis materi yang kita
kuasai, tulis apa yang kita alami, ide menulis banyak berserakan di sekitar
kita, tulis dengan bahasa yang sederhana yang penting pesannya tersampaikan,
dan lainnya.
Pertanyaan tersebut
menjadi pertanyaan terpilih yang mewakili keinginan Om Jay sehingga Cing Ato
mendapat hadiah dari Om Jay.
Pulang dari pelatihan, Cing Ato menulis apa
yang bisa dan dialaminya. Hampir setiap hari menulis satu artikel. Sambil menulis, Cing Ato tidak berhenti
mencari Pelatihan menulis lagi lewat medsos. Pada tanggal 27-29 Desember 2017,
Cing Ato mengikuti pelatihan di Cipanas, Jawa Barat. Pelatihan tersebut
diselenggarakan oleh komunitas menulis Media Guru. Hampir dua tahun
berturut-turut, Cing Ato berkelana mencari ilmu tentang menulis dan meninggalkan
anak dan istri dengan biaya lumayan. Dari pelatihan ini terbitlah buku solo
perdana dengan judul "Mengejar Azan" buku perdana ini, Cing
Ato meminta teman untuk melukisnya, lalu diberikan bingkai dan diletakkan di depan meja kerjanya.
”Sebuah
kebahagiaan tersendiri buat saya, bangga rasanya mempunyai buku. Teman-teman
banyak yang mengapresiasi dan membeli buku perdana saya.”
Namun, kebahagiaannya
sirna begitu saja. Bagaimana tidak, dengan hitungan jam, tubuhnya lunglai,
semua syaraf mati, seluruh tubuh tidak bergerak, lidah tertarik, urat wajah pun
tertarik, suara hilang, dan nafaspun tidak bisa. Akhirnya nafas dibantu oksigen
dan ventilator. Satu bulan 13 hari dirawat di ruang ICU. Dengan hitungan hari,
tubuh yang besar lagi tingi tinggal tulang berbalut kulit. Banyak teman bilang
sepertinya Cing Ato tidak ada harapan. Di ruang ICU tidak ada perubahan, lalu
dipindah ke ruang yang lebih intensif, ruang HCU. Ditemani oleh 2 suster dan 1
dokter yang jaga. Hampir 3 bulan dirawat di ruang HCU. Dokter sudah pesimis dan
mendiagnosa bahwa tidak akan lepas dari ventilator. Pihak rumah sakit ingin
mengusir, tapi istrinya berjuang agar tidak diusir dari rumah sakit. Istri meminta
sampai bisa lepas ventilator baru pulang. Tiba-tiba pada suatu malam,
ventilator rusak. “Saya sudah pasrah jika malam itu dipanggil menghadap sang
maha kuasa. Ternyata pagi-pagi saya masih hidup. Mungkin di antara penyebab
saya masih bernafas karena ada doa dari orang-orang saleh,” tutur Cing Ato.
Setelah lepas
ventilator, Cing Ato bisa pulang dalam kondisi memakai oksigen. Pulang dari
rumah sakit masih dalam kondisi sakit. Cing Ato tidak bisa bergerak. Hampir
satu tahun seluruh tubuh tak bergerak, setelah itu mulai satu persatu bergerak.
Hari-hari hanya terbaring di tempat tidur. Jenuh, bosan, hampir saja stress. Ketika
sedang melamun, tiba-tiba ada suara gawai istri yang tertinggal di rumah. Cing
Ato meminta asisten rumah tangga untuk mengambilkan dan meletakkan di atas dada
di alasi bantal lalu tempat tidurnya ditinggikan bagian kepala sehingga bisa
melihat gawai. “Saya coba menyentuhnya, ternyata bisa. Saya sangat gembira.
Ketika istri pulang ngajar langsung saya pinta gawai saya yang selama setahun
lebih tidak pernah digunakan. Istri langsung membelikan kartu baru. Mulailah
saya melacak Facebook, butuh waktu tiga hari baru terlacak password-nya.”
Sejak itu, Cing
Ato menulis. Cing Ato menulis dengan satu tema, yaitu tentang motivasi hidup.
Hampir setiap hari, Cing Ato selalu menulis. Malam mencari ide dan sesudah
subuh menulisnya. Cing Ato tidak bisa tidur kalau belum ketemu ide.
Aktivitas Cing Ato
mulai hari Senin sampai Jumat menulis motivasi. Sabtu dan Minggu menulis
tentang apa yang sedang dialami dan rasakan. Semua tulisannya dishare ke facebook. Banyak yang mengapresiasi
dan menunggu tulisan Cing Ato berikutnya. Om Jay
sempat kaget dengan apa yang Cing Ato posting di medsos. Om Jay vicol Cing
Ato. Pada saat itu, suaranya belum jelas. Om Jay mengajaknya untuk ikut
pelatihan menulis di gelombang 8. Cing Ato mengikuti dengan semampunya. Namun,
Cing Ato tidak lulus karena tidak menyetor resume. Walaupun demikian, Cing Ato
menyimpan materi pelatihan disimpan di blog dan wordpress. Setelah ada waktu
senggang, materi tersebut dijadikan
buku.
“Alhamdulillah,
dengan mengikuti pelatihan menulis PGRI menambah nutrisi tulisan saya lebih
hidup,”ucap Cing Ato.
Akhirnya lahirlah
buku perdana ketika sakit, dengan judul GBS Menyerangku. Secara
bersamaan terbit buku kedua, judul Menuju Pribadi unggul; Seni Menata Diri.
Buku ini di bawah bimbingan pak Akbar Zaenudin.
Selanjutnya secara
estafet terbit buku-buku yang lainnya. Seperti buku motivasi, memor, cerpen,
novel Betawi, tentang menulis, dan lainnya. Sampai hari ini sudah 12 buku solo
yang berhasil diterbitkan. Buku yang ke-12, berjudul Menulis di Kala Sakit. Masih
ada dua yang belum diterbitkan, calon
buku ke -13 dan 14, yaitu : Catatan Harian Sang Guru dan Catatan
Harian Guru Blogger Madrasah.
Adapun hikmah yang
didapat Cing Ato Ketika menulis di kala sakit yaitu
1. Kedatangan para youtuber (Chanel Akbar
Zaenudin "Guru Inspiratif" dan Chanel Sutrisno Muslim
"Kesempatan Kedua Mengubahku."
2.
Mendapatkan Penghargaan "Pahlawan
Pendidikan" dari Bang Japar Jakarta.
3.
Menjadi Narasumber pelatihan menulis
di Komunitas belajar menulis di KSGN
PGRI.
4.
Banyak punya teman hingga banyak yang
bantu menerbitkan buku.
5.
Banyak teman ditempat kerja yang
terinspirasi membuat buku.




No comments:
Post a Comment