PELATIHAN BELAJAR
MENULIS PGRI
Jumat, 28
Oktober 2022
Digitalisasi
Gerakan Literasi Sekolah
Oleh
Bambang Purwanto,
S.Kom.Gr.
Kemajuan teknologi
memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan manusia. Tidak bisa dipungkiri,
dampak negatif digitalisasi masih mendominasi kehidupan masyarakat Indonesia.
Hal ini terbukti dari penyalahgunaan internet seperti pelanggaran privasi, bias
realitas, ujaran kebencian, radikalisme hingga penyebaran berita bohong atau
hoaks. Ada banyak faktor yang memicu masalah tersebut. Beberapa diantaranya
adalah rendahnya karakter yang dimiliki seseorang, kurang pahamnya etika dalam
bermedia sosial, ketidaktahuan atau
kurang pahamnya tentang Undang-Undang ITE, dsb. Salah satu pemicu faktor-faktor
tersebut adalah rendahnya literasi. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan untuk
beradaptasi pada era digitalisasi ini. Canggihnya teknologi harus diimbangi
dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu cara untuk
menghindari dampak negatif teknologi dan meningkatkan kualitas sumber daya
manusia pada era digitalisasi ini adalah dengan menerapkan gerakan literasi.
Di sekolah, gerakan
literasi sudah dicanangkan oleh
pemerintah sejak tahun 2015 melalui Permendikbud No. 23
Tahun 2015 mengenai penumbuhan budi pekerti. Dari situlah, lahir sebuah gerakan membaca 15 menit sebelum belajar.
Seiring
perkembangan zaman, literasi juga mengalami kemajuan, yaitu beralih ke bentuk
digital. Digitalisasi adalah proses pengalihan informasi dalam bentuk analog ke
bentuk digital. Proses pengalihan dilakukan dengan menggunakan teknologi
digital, sehingga informasi bisa diperoleh dan ditransmisikan melalui peralatan
dan jaringan internet.
Harjono (2018)
berpendapat bahwa literasi digital merupakan perpaduan dari keterampilan
teknologi informasi dan komunikasi, berpikir kritis, keterampilan bekerja sama
(kolaborasi), dan kesadaran sosial.
Banyak sekolah yang
sudah mulai menerapkan literasi digital. Salah satu sekolah tersebut adalah SMP
Taruna Bakti, Bandung. Pada tahun 2019, SMP Taruna Bakti mendapatkan Anugerah
Widya Pratama Sekolah Berbudaya Literasi Kategori Utama dari Dinas Pendidikan
Kota Bandung. Semua itu, berkat kerja keras Bapak Bambang Purwanto, S.Kom.Gr. atau
yang akrab disapa dengan Mr.Bams. Pada saat itu, Beliau adalah ketua tim
literasi SMP Taruna Bakti. Beliau juga mendapat penghargaan sebagai Penerima
Anugerah Widya Pratama Tahun 2019 Penggiat Literasi dari Dinas Pendidikan Kota
Bandung. Beliau akan berbagi pengalamannya khususnya tentang Gerakan Literasi
Sekolah dan Digitalisasinya yang dilaksanakan di SMP Taruna Bakti Bandung.
1. Gerakan Literasi Sekolah yang dilaksanakan
di SMP Taruna Bakti Bandung mengacu Permendikbud No. 23
Tahun 2015.
Kegiatan tersebut ialah gerakan membaca 15 menit sebelum pelajaran di mulai.
2. Literasi di SMP Taruna Bakti sudah
berbasis digital. Website literasi SMP Taruna Bakti
yaitu http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/. Sebelumnya website pernah menggunakan wordpress.com.
Kini website ini sudah menggunakan domain yang sama dengan web sekolah.
3.
Kegiatan literasi di
SMP Taruna Bakti meliputi kegiatan sebagai berikut.
Senin : Membaca Kitab Suci
http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-senin-24-oktober-2022/
Selasa : Menyimak Cerita Melalui Youtube
http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-selasa-25-oktober-2022/
Rabu : Membaca Buku Pilihan Sendiri
http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-selasa-25-oktober-2022-2/
Kamis : Menyimak Cerita (Bahasa Inggris/Bahasa Sunda)
http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-kamis-20-oktober-2022/
Jumat : Curhat
http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-jumat-14-oktober-2022/
4.
Cerita Hikmah yang
dilakukan Selasa dan Kamis, disimpan juga di
website
http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/cerita-pagi-27-oktober-2022/
atau lengkapnya bisa dilihat disini
http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/category/cerita-pagi/
5.
Setiap guru yang
memiliki blog atau website bisa dijadikan media untuk mendukung pembelajaran yang diampu. Mr.
Bams menggunakan website untuk media pembelajaran, menyimpan Refleksi Diri, dokumentasi Kegiatan
OSIS-MPK (sesuai tugas, saat ini sebagai Pembina OSIS dan MPK), dan tulisan yang lainnya.
Setiap siswa dapat mengakses sesuai kelasnya masing-masing. Dalam
website ini, setiap siswa bisa menuliskan refleksi diri di akhir pembelajaran. Setiap
siswa bisa menuliskan hasil belajar, mulai dari apa yang didapat, apa yang
masih menjadi kesulitan dan diberikan ruang untuk memberikan masukan kepada Mr.
Bams sebagai guru. Beliau akan
memberikan point 10 bagi yang menuliskan refleksi diri. Poin akan terus
diakumulasikan. Refleksi Diri (RD) bagi Mr. Bams menjadi sebuah tempat untuk
ruang bagi siswa untuk menuliskan apa yang mereka rasakan. Menulis memang butuh
latihan, inilah salah satu tempat bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan
menulis. Poin yang diperoleh oleh siswa bisa menunjukan tingkat kedisiplinan.
Ini menjadi kebiasaan bagi siswa. Setiap poin akan menujukan kesungguhan setiap
siswa.
Kegiatan literasi yang dilaksanakan di sekolah manapun harus mendapat dukungan dari semua pihak di sekolah. “Lakukan dukungan
literasi baik ada surat tugas maupun tidak. Menjadi relawan literasi menjadi
sebuah kekuatan diri untuk bisa membumikan literasi di sekolah bahkan di
masyarakat,”
tutur Mr.Bams.

No comments:
Post a Comment