Monday, November 7, 2022

 

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI

Resume ke-27, Gelombang 27

Jumat, 21 Oktober 2022


Membuat Cover Buku yang Menarik

Oleh

Fajar Tri Laksono, M.Pd.

Cover buku adalah bagian yang penting dari sebuah buku. Cover buku berfungsi untuk menginformasikan judul buku, penulis, penerbit, tahun terbit, dan ada juga yang menyertakan edisi bukunya. Cover buku adalah wajah buku. Oleh karena itu, diperlukan tampilan yang menarik. Cover buku bisa dikatakan menarik jika dapat memcerminkan isi buku, ilustrasi sesuai tema atau judul, perpaduan warna dan gambarnya juga yang sesuai. Tidak tanggung-tanggung, dari penampilan cover yang menarik tersebut ternyata dapat mendongkrak penjualan buku.

Pembuatan cover memang bisa langsung diserahkan ke penerbit. Namun, kalau sudah masuk penerbit, keinginan penulis kadang tidak bisa dikomunikasikan sehingga cover yang dibuat oleh penerbit tidak sesuai dengan ekspektasi penulis. Solusinya ialah kita bisa meminta bantuan untuk  mengubah cover dengan bantuan seseorang yang ahli di bidangnya. Secara otomatis kita juga harus mengeluarkan biaya tambahan. Untuk biaya mulai 75.000 sampai 225.000 atau bahkan lebih, tergantung dari kualitas dan detail desainnya. Solusi kedua yaitu kita bisa membuat desain cover buku sendiri.

Untuk membuat cover buku, dapat dilakukan dengan beberapa aplikasi grafis yaitu

1.    Corel DRAW

Aplikasi ini dapat digunakan untuk finishing.

2.    Photoshop

Aplikasi ini digunakan jika ada kaitannya dengan foto.

3.    Ilustrator

Aplikasi ini digunakan untuk menggambar.

Dengan canggihnya aplikasi-aplikasi grafis, seorang desain cover bisa mengubah gambar maupun warna sesuai keinginan. Aplikasi-aplikasi tersebut ada yang versi trial (gratisan) dan ada yang berbayar atau pro. Fitur yang disediakan antara yang versi trial (gratisan)  dan versi  berbayar relative sama. Namun, kekurangan seri trial (gratisan) hanya bertahan selama 30 hari. Setelah itu tidak bisa digunakan sehingga harus mendownload ulang.

Sebetulnya untuk membuat cover buku juga bisa menggunakan aplikasi canva. Namun, Bapak Fajar Tri Laksono kurang menyarankan karena canva hanya templete, Beliau mengatakan bahwa sifatnya tidak unik dan pasaran. Bisa saja cover yang penulis pakai saat ini sudah pernah dipakai penulis lain.

Hal lain yang perlu diingat bahwa untuk membuat desain buku dengan tujuan komersial harus memperhatikan lisensi. Sebagai desainer cover harus berhati-hati agar cover yang dibuat tidak melanggar lisensi. Jika melanggar lisensi tentu sama saja dengan melanggar hak cipta. Dengan adanya pelanggaran hak cipta, tentu penulis bisa terkena sanksi hukum yang berlaku. Pelanggaran hak cipta menurut Undang-undang Nomor 28 Tahun 2014 adalah sanksi pidana penjara dan pidana denda, sebagai mana bunyi Pasal 112, setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan/atau Pasal 52 untuk penggunaan secara komersial, dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah).

Selain sanksi itu, konsekuensi lainnya adalah buku yang telah dicetak akan ditarik dari pasaran dan tidak boleh diperjualbelikan lagi. Tentu ini sangat merugikan diri sendiri.

Bagaimana dengan gambar-gambar yang ada di google?

Ternyata sebagai desain cover juga tidak boleh asal ambil gambar yang ada di internet karena gambar yang ada di goolgle juga memiliki hak cipta. Dengan ambil gambar sembarangan, itu sama saja dengan melanggar lisensi. Oleh karena itu, untuk tujuan komersial, sebagai desain cover bisa membeli gambar di market place internasioanal seperti freepik dan pikbest.com. Sama halnya dengan aplikasi grafis, freepik juga ada yang gratisan ada pula yang berbayar. Untuk kepentingan komersial, desain cover harus menggunakan akun premium yang berbayar sehingga tidak ada pelanggaran lisensi. Demikian juga dengan pikbest.com.

 

Sunday, November 6, 2022

 

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI

Resume ke-29, Gelombang 27

Rabu, 26 Oktober 2022


Teknik Promosi Buku

Oleh

Akbar Zainudin, M.M, MJW.

"Jangan pernah ragu meniru penulis lain. Setiap seniman yang tengah mengasah keterampilannya membutuhkan model. Pada akhirnya, Anda akan menemukan gaya sendiri dan menanggalkan kulit penulis yang Anda tiru."- William Zinsser

Apakah mempromosikan jualan merupakan hal yang mudah? Jawabannya bisa mudah bisa juga sulit. Menjadi mudah jika kita menguasai strateginya. Namun, jika tidak bisa menguasai strateginya akan menjadi hal yang sulit sebab daya saing bisnis tergolong tinggi dan selera konsumen sering berubah-ubah. Dengan demikian, benar-benar dibutuhkan pemahaman dan strategi yang tepat agar cara promosi yang dilakukan bisa efektif.

Mempromosikan buku sama juga seperti mempromosikan makanan. Ketika mempromosikan makanan, harus memperhatikan dulu tips manajemen dapur jualan supaya kualitasnya tetap terjaga. Mulai dari kekompakan sampai sarana prasarana yang baik, kemudian meramunya dalam resep cita rasa tinggi. Selanjutnya mengemasnya dalam sajian yang menarik pembeli, terutama tampilan yang menggugah selera. Maka makanan pun bisa laris manis. Demikian juga ketika mempromosikan buku. Perlu banyak teknik  agar banyak peminatnya. Pada Pelatihan Menulis PGRI Gelombang 27, Bapak Akbar Zainudin, M.M. akan berbagi ilmu tentang teknik promosi buku.

STRATEGI PROMOSI BUKU

APA ITU PROMOSI BUKU

Promosi adalah cara kita memberikan informasi tentang produk kepada konsumen agar mereka tertarik dan mau membeli produk kita. Promosi buku adalah cara kita mengenalkan buku yang kita miliki kepada audiens kita agar mereka tertarik dan mau membeli.

MENGAPA PROMOSI BUKU ITU PENTING

Promosi buku itu penting karena sebagus apapun buku kita kalau konsumen atau audiens tidak mengetahui produk kita, maka mereka tidak akan tertarik, apalagi mau membeli buku kita.

Beberapa tujuan dari promosi buku adalah:

1.    Membuat audiens mengenal (tahu) buku kita.

2.  Membangkitkan kebutuhan konsumen untuk membeli buku kita. Bagaimana caranya yang tadinya mereka tidak butuh, tetapi setelah kita promosikan menjadi butuh.

3.    Meyakinkan konsumen untuk membeli buku.

4.    Mengharapkan konsumen agar mau merekomendasikan buku kita kepada orang lain.

TUJUH PROGRAM PROMOSI BUKU.

Program promosi bisa dilakukan oleh penerbit maupun penulis. Beberapa program promosi yang bisa dilakukan.

PERTAMA, LAUNCHING BUKU.

Adalah program untuk meluncurkan buku baru. Bisa di aula, masjid, lembaga pendidikan, hotel, di mana saja. Yang mengadakan bisa penerbit maupun penulis. Yang membiayai launching buku siapa? Bisa penerbit, bisa penulis. Kita perlu meyakinkan penerbit kalau buku kita akan laku, karena itulah mereka perlu menyelenggarakan program launching buku.

Kalau di Gramedia, di toko-toko buku mereka ada tempat untuk launching buku. Kita bisa memanfaatkan tempat ini. Jadi kita promosikan acaranya, tempatnya di toko buku Gramedia.

Sekarang ini program launching buku semakin mudah. Dengan adanya Media Sosial, kita bisa melakukan program launching buku ini bahkan dari rumah. Bisa melalui FB, IG, ataupun Youtube.

Buat saja program LAUNCHING BUKU, live di FB, IG, atau Youtube. Undang kawan-kawan kita. Ajak mereka berpartisipasi. Launching buku kalau perlu setiap bulan karena launching buku tidak harus sekali. Bulan ini launching pertama, bulan depan launching kedua, ketiga, dan seterusnya. Kalau setiap bulan kita launching buku kita, setahun kita sudah 12 kali launching buku. Keren, kan?

KEDUA, BEDAH BUKU.

Bedah buku adalah acara diskusi untuk membedah isi buku kita. Bedah buku ini bisa secara online maupun offline. Offline artinya kita menyelenggarakan bisa bekerjasama dengan berbagai lembaga. Lembaga pendidikan, perpustakaan, majlis taklim, masjid, dan sebagainya.

Pokoknya, di semua tempat dan situasi yang memungkinkan, kita tawarkan bedah buku. Berapapun yang hadir, kita selenggarakan terus menerus. Apalagi sekarang ini eranya digital. Bukan berapa orang yang hadir yang penting, tetapi direkam lalu diupload di medsos acara kita. Insya Allah akan semakin membuat orang mengenal kita.

Sekali lagi, yang lebih mudah sekarang ini adalah bedah buku secara online. Kita undang orang-orang untuk ikut acara bedah buku bersama kita. Bisa di FB, IG, WA Grup, Zoom, dan sebagainya.

KETIGA, SEMINAR ATAU PELATIHAN

Lakukan seminar ataupun workshop sesuai dengan tema buku kita. Kalau saya bukunya motivasi dan menulis. Maka saya secara berkala menyelenggarakan seminar dan diklat terkait motivasi dan menulis.

Seminar atau workshop ini, pertama-tama bolehlah dilakukan gratis. Karena target kita adalah mengenalkan buku kepada para peserta. Lakukan secara kontinyu, misalnya sebulan sekali. Kalau misalnya bisa offline, laksanakan di sekolah misalnya. Kalau tidak bisa offline, lakukan secara online. Bisa via WA, Zoom, FB, IG, dan sebagainya.

KEEMPAT, MEMBANGUN KOMUNITAS

Komunitas yang kita bangun adalah komunitas yang kita sesuaikan dengan tema buku kita. Kalau buku kita temanya motivasi, maka kita tuliskan buku-buku tentang motivasi. Buku tentang guru, maka bangun komunitas guru. Buku tentang menulis, bangun komunitas menulis. Buku tentang Ice Breaking, bangun komunitas Ice Breaking. Buku tentang bahasa, bangun komunitas bahasa.

Komunitas membuat kita lebih dekat dengan pembaca sehingga memudahkan kita untuk menawarkan mereka dalam membeli buku.

Saya sendiri membangun banyak komunitas, ada komunitas guru, menulis, santri, remaja, bisnis, dan sebagainya. Semua komunitas itu ada bukunya. Saya share materi-materi yang ada di buku secara berkala, biasanya seminggu sekali, sehingga anggota komunitasi ini mendapatkan manfaat. Biasanya saya bentuk di WA Grup. Sesekali seminar melalui zoom.

KELIMA, MEMBANGUN JARINGAN RESELLER.

Reseller adalah orang-orang yang mau menjualkan buku kita dan mendapatkan buku dari hasil yang terjual. Kita berikan 20-30 persen komisi dari harga jual. Misalnya harga jual buku kita Rp 100.000, kita kasih 20-30%, kita berikan materi-materi yang terkait buku kita, sehingga lebih mudah bagi mereka untuk menjual.

Dewa Eka Prayoga, berhasil menjual 10.000 buku hanya dalam waktu 2 minggu melalui reseller ini. Tentu resellernya saja puluhan ribu, berbagai produk. Kalau kita sudah punya jaringan reseller, akan memudahkan kita menjual buku.

Saya juga sedang membangun jaringan reseller ini. Belum banyak, baru sekitar 100 an orang. Insya Allah akan terus bertambah.

KEENAM, JUALAN DI MARKETPLACE.

Buka toko di marketplace (Lazada, Shopee, Bukalapak, Tokopedia, dan sebagainya). Membuka toko di marketplace akan meluaskan promosi dan distribusi kita. 

Yang penting keberadaan kita dan buku kita ada. Itulah pentingnya ada di marketplace. Jadi kalau ada orang mencari judul buku kita, bisa ditemukan.

KETUJUH, MEMANFAATKAN MEDSOS

Manfaatkan media sosial (medsos) untuk promosi buku. Manfaatkan sebaik-baiknya followers dan subscriber dengan memberikan informasi tentang buku. Setiap hari, kita buat status terkait tema buku yang kita tulis, sehingga orang semakin paham dengan buku yang kita tulis.

Jangan setiap hari isinya jualan. Lebih banyak sharing-sharing, baru selling. Lebih banyak memberikan pengetahuan kepada para pembaca sehingga mereka merasa ada manfaat menjadi followers kita.

Sharing-sharing apa saja, kalau perlu sesuai dengan kebutuhan mereka sehingga setiap hari, semakin lama akan semakin ada ikatan dengan pembaca. Kalau sudah begitu, akan memudahkan kita dalam proses memengaruhi pikiran orang dalam membeli buku.

Jadi, pada dasarnya kita ini memengaruhi orang agar mereka mau menjadikan buku sebagai kebutuhan utama. Dengan membaca akan banyak membuka wawasan, pengetahuan, dan pilihan dalam mengambil keputusan.

Dengan bersama-sama membangun kebutuhan akan membaca, maka akan memudahkan kita dalam proses menjual buku.

UPDATE STATUS setiap hari. Di WA, IG, FB. Ambil cuplikan dari buku, jadikan sebagai update status. Lama-lama nanti timbul keingintahuan mereka, yang akhirnya tertarik untuk membeli.

Salah satu hal yang perlu kita perhatikan, terutama kalau kita promosi di Media Sosial adalah KONSISTENSI dan REPETISI. Buatlah update status yang KONSISTEN. Kalau misalnya bisanya seminggu sekali, ya lakukan seminggu sekali. Tetapi terus harus ada setiap minggu. Kalau bisa 3 hari sekali, lakukan. Akan lebih bagus kalau bisa setiap hari.

Tetapi harus konsisten. Jangan update status kalau lagi rajin. Satu bulan setiap hari update status. Terus bulan berikutnya tidak pernah update status lagi. Bagaimana orang mau kenal dengan buku kita. Konsisten dan terus menerus.

Kedua adalah REPETISI. Ulangi lagi, lagi, dan lagi. Kalau kita melihat iklan di televisi, hampir setiap saat diulangi lagi, dan lagi. Memang begitulah promosi itu. Terus diulangi lagi dan lagi agar orang itu ingat, menancap kuat. Akhirnya nanti yang terpikirkan buku kita.

Untuk lebih jelasnya, bisa melihat video yang berjudul 7 Strategi Promosi Buku Biar Jadi Best Seller di link https://youtu.be/lZhAixv86wA

Selain tujuh strategi promosi buku tersebut, tentu masih banyak program-program lain yang bisa kita ciptakan sesuai dengan kreativitas masing-masing. Manfaatkan HP kita sebaik-baiknya, secara maksimal. Melalui WA, Tiktok, YouTube, kita pikirkan bagaimana agar kita tidak hanya menjadi pengguna dan penikmat saja, tetapi kita juga bisa buat konten-konten menarik terkait buku kita sehingga HP kita menjadi lebih produktif.

Sebagai catatan penutup. Sekarang ini sebagai seorang penulis, kita kalau bisa memiliki beberapa keterampilan yang akan membantu proses penjualan buku.

Pertama, keterampilan berbicara yang baik di depan umum (public speaking) agar pada saat kita ada acara ataupun rekaman di Medsos dan YouTube, menjadi menarik bagi calon pembaca.

Kedua, kemampuan copywriting (membuat kata menarik untuk promosi dan penjualan). Ini salah satu keterampilan paling penting untuk menjual pada Abad 21.

Ketiga, pemanfaatan teknologi informasi. Bagaimana memanfaatkan media sosial seperti YouTube, WA, IG, Facebook, Zoom, Webex, Google Meet, dan sebagainya. Karena eranya sekarang seperti itu. Kalau kita bisa memanfaatkan dengan baik, hidup akan lebih mudah.

 

Tuesday, November 1, 2022

 

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI

 Resume ke-30, Gelombang 27

Jumat, 28 Oktober 2022


Digitalisasi Gerakan Literasi Sekolah

Oleh

Bambang Purwanto, S.Kom.Gr.

Kemajuan teknologi memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan manusia. Tidak bisa dipungkiri, dampak negatif digitalisasi masih mendominasi kehidupan masyarakat Indonesia. Hal ini terbukti dari penyalahgunaan internet seperti pelanggaran privasi, bias realitas, ujaran kebencian, radikalisme hingga penyebaran berita bohong atau hoaks. Ada banyak faktor yang memicu masalah tersebut. Beberapa diantaranya adalah rendahnya karakter yang dimiliki seseorang, kurang pahamnya etika dalam bermedia sosial,  ketidaktahuan atau kurang pahamnya tentang Undang-Undang ITE, dsb. Salah satu pemicu faktor-faktor tersebut adalah rendahnya literasi. Oleh karena itu, diperlukan kemampuan untuk beradaptasi pada era digitalisasi ini. Canggihnya teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Salah satu cara untuk menghindari dampak negatif teknologi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia pada era digitalisasi ini adalah dengan menerapkan gerakan literasi.

Di sekolah, gerakan literasi  sudah dicanangkan oleh pemerintah sejak tahun 2015 melalui Permendikbud No. 23 Tahun 2015 mengenai penumbuhan budi pekerti. Dari situlah, lahir sebuah gerakan membaca 15 menit sebelum belajar.

Seiring perkembangan zaman, literasi juga mengalami kemajuan, yaitu beralih ke bentuk digital.  Digitalisasi adalah proses pengalihan informasi dalam bentuk analog ke bentuk digital. Proses pengalihan dilakukan dengan menggunakan teknologi digital, sehingga informasi bisa diperoleh dan ditransmisikan melalui peralatan dan jaringan internet.

Harjono (2018) berpendapat bahwa literasi digital merupakan perpaduan dari keterampilan teknologi informasi dan komunikasi, berpikir kritis, keterampilan bekerja sama (kolaborasi), dan kesadaran sosial.

 

 

Banyak sekolah yang sudah mulai menerapkan literasi digital. Salah satu sekolah tersebut adalah SMP Taruna Bakti, Bandung. Pada tahun 2019, SMP Taruna Bakti mendapatkan Anugerah Widya Pratama Sekolah Berbudaya Literasi Kategori Utama dari Dinas Pendidikan Kota Bandung. Semua itu, berkat kerja keras Bapak Bambang Purwanto, S.Kom.Gr. atau yang akrab disapa dengan Mr.Bams. Pada saat itu, Beliau adalah ketua tim literasi SMP Taruna Bakti. Beliau juga mendapat penghargaan sebagai Penerima Anugerah Widya Pratama Tahun 2019 Penggiat Literasi dari Dinas Pendidikan Kota Bandung. Beliau akan berbagi pengalamannya khususnya tentang Gerakan Literasi Sekolah dan Digitalisasinya yang dilaksanakan di SMP Taruna Bakti Bandung.

1.    Gerakan Literasi Sekolah yang dilaksanakan di SMP Taruna Bakti Bandung mengacu Permendikbud No. 23 Tahun 2015. Kegiatan tersebut ialah gerakan membaca 15 menit sebelum pelajaran di mulai.

2.   Literasi di SMP Taruna Bakti sudah berbasis digital. Website literasi SMP Taruna Bakti yaitu http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/. Sebelumnya website pernah menggunakan wordpress.com. Kini website ini sudah menggunakan domain yang sama dengan web sekolah.

3.        Kegiatan literasi di SMP Taruna Bakti meliputi kegiatan sebagai berikut.

Senin : Membaca Kitab Suci

http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-senin-24-oktober-2022/

Selasa : Menyimak Cerita Melalui Youtube

http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-selasa-25-oktober-2022/

Rabu : Membaca Buku Pilihan Sendiri

http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-selasa-25-oktober-2022-2/

Kamis : Menyimak Cerita (Bahasa Inggris/Bahasa Sunda)

http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-kamis-20-oktober-2022/

Jumat : Curhat

http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/laporan-input-literasi-harian-siswa-jumat-14-oktober-2022/

4.        Cerita Hikmah yang dilakukan Selasa dan Kamis, disimpan juga di website

http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/cerita-pagi-27-oktober-2022/

atau lengkapnya bisa dilihat disini

http://literasi.smp.tarunabakti.sch.id/category/cerita-pagi/

5.        Setiap guru yang memiliki blog atau website bisa dijadikan media untuk mendukung pembelajaran yang diampu. Mr. Bams menggunakan website untuk media pembelajaran, menyimpan Refleksi Diri, dokumentasi Kegiatan OSIS-MPK (sesuai tugas, saat ini sebagai Pembina OSIS dan MPK), dan tulisan yang lainnya.

Setiap siswa dapat mengakses sesuai kelasnya masing-masing. Dalam website ini, setiap siswa bisa menuliskan refleksi diri di akhir pembelajaran. Setiap siswa bisa menuliskan hasil belajar, mulai dari apa yang didapat, apa yang masih menjadi kesulitan dan diberikan ruang untuk memberikan masukan kepada Mr. Bams sebagai guru. Beliau  akan memberikan point 10 bagi yang menuliskan refleksi diri. Poin akan terus diakumulasikan. Refleksi Diri (RD) bagi Mr. Bams menjadi sebuah tempat untuk ruang bagi siswa untuk menuliskan apa yang mereka rasakan. Menulis memang butuh latihan, inilah salah satu tempat bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan menulis. Poin yang diperoleh oleh siswa bisa menunjukan tingkat kedisiplinan. Ini menjadi kebiasaan bagi siswa. Setiap poin akan menujukan kesungguhan setiap siswa.

Kegiatan literasi yang dilaksanakan di sekolah manapun harus mendapat dukungan dari semua pihak di sekolah. Lakukan dukungan literasi baik ada surat tugas maupun tidak. Menjadi relawan literasi menjadi sebuah kekuatan diri untuk bisa membumikan literasi di sekolah bahkan di masyarakat,” tutur Mr.Bams.

  RANGKUMAN KESIMPULAN PEMBELAJARAN KONEKSI ANTARMATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERDASARKAN NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN...