Wednesday, February 2, 2022

 

PELATIHAN BELAJAR MENULIS PGRI

Resume ke-6, Gelombang 23 dan 24

Jumat, 28 Januari 2022

 

 

Menulis Buku dari Karya Ilmiah

Oleh

Noralia Purwa Yunita, M.Pd. 

Narasumber Pelatihan Belajar Menulis PGRI pada pertemuan ke-6 adalah seorang guru muda hebat, berbakat dengan segudang karya dan prestasi. Beliau bernama Ibu Noralia Purwa Yunita, M.Pd. Beliau adalah seorang pengajar di SMPN 8 Semarang, penulis, bloger, dan sebelumnya Beliau juga adalah peserta kelas belajar menulis PGRI dari grup 8 yang bukunya juga tembus di penerbit mayor Andi Offset.

Ibu Raliyati, selaku moderator menyampaikan bahwa materi pada pertemuan kali ini adalah “Menulis Buku dari Karya Ilmiah.”

Karya ilmiah adalah sebuah tulisan yang berisi tentang serangkaian hasil pemikiran seseorang. Karya ilmiah biasanya diuraikan dalam bentuk laporan tertulis yang isinya memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim sesuai ketentuan yang berlaku.

Jenis-jenis karya ilmiah antara lain artikel ilmiah, laporan penelitian, makalah, skripsi, tesis, disertasi, dsb. Bagi seorang guru, karya ilmiah bukanlah sesuatu yang baru. Karena ketika kuliah, baik S1, S2, atau bahkan S3,  sudah terbiasa membuat karya ilmiah. Tidak hanya itu, setelah menjadi guru,  kita diberikan tuntutan untuk membuat satu jenis karya ilmiah lagi (sebagai penunjang kenaikan pangkat bagi ASN) yakni PTK, best practice, makalah tinjauan ilmiah, artikel ilmiah.

Bagi yang menempuh kuliah S1, S2, atau S3 tujuan menulis karya ilmiah ialah untuk memenuhi tugas mata kuliah tertentu dan sebagai syarat kelulusan dan mendapatkan gelar. Bagi ASN, tujuan menulis karya ilmiah adalah untuk mendapatkan angka kredit. Jadi, setelah selesai, karya ini hanya dipublikasikan di perpustakaan sekolah atau bahkan ada yang tergeletak begitu saja di rak atau bahkan di gudang. Tentu hal ini dapat dilihat bahwa manfaat karya ilmiah hanya sebatas untuk memenuhi tuntutan tertentu saja.

Hal tersebut tentu tidak sepadan dengan perjuangan dan pengorbanan untuk menyelesaikan karya ilmiah tersebut.”Padahal, jika kita mengingat perjuangan untuk membuat dan menyelesaikan KTI tersebut, tentu tidak sedikit pengorbanan yang harus dikeluarkan, entah itu materi, waktu, atau bahkan psikis. Bahkan untuk sebagian orang ada yang menyelesaikan KTI sampai menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun,” tutur Ibu Noralia.

 Ibu Noralia berkata, “Akan sangat disayangkan apabila informasi dan data penting yang tertulis dalam KTI dari hasil riset yang telah kita lakukan tersebut hanya tergeletak begitu saja di perpustakaan dan tidak dapat tersampaikan kepada masyarakat luas atau tidak dapat dinikmati oleh masyarakat luas sebagai rujukan yang dapat memberikan solusi nyata.”

Oleh karena itu, ada solusi yang lebih bermanfaat, yaitu mengubahnya menjadi sebuah buku. Ada banyak manfaat mengkonversi karya ilmiah menjadi buku, antara lain.

1.      Dapat dibaca oleh masyarakat awam.

2.      Buku dapat diperjualbelikan, jadi ada keuntungan material yang dapat kita peroleh.

3.   Bagi para ASN, buku dapat dijadikan publikasi ilmiah yang dapat menambah poin angka kredit. Jadi selain mendapatkan poin AK dari laporan PTK, juga akan mendapatkan poin dari publikasi ilmiah berupa buku tadi.

4.    Jika buku hasil konversi karya ilmiah milik kita banyak yang baca, banyak yang beli, ada kemungkinan nama kita sebagai penulis akan dikenal oleh banyak orang, ini juga merupakan keuntungan tersendiri. Ilmu yang ada, dapat tersebar bebas tanpa sekat jika sudah diubah menjadi buku

Berikut perbedaan format buku dan karya ilmiah

Format Buku

Format KTI pada Umumnya

judul

kata pengantar

prakata

daftar isi

isi buku

daftar Pustaka

sinopsis

profil penulis

Boleh ditambah daftar gambar, indeks

 

judul

lembar pengesahan

kata pengantar

halaman persembahan

daftar isi

pendahuluan

tinjauan Pustaka

metode penelitian

pembahasan

kesimpulan

daftar Pustaka

lampiran

 Ibu Noralia menjelaskan cara mengkonversi karya ilmiah ini menjadi sebuah buku adalah

1.      Ubah judul

Biasanya, judul KTI menggunakan bahasa ilmiah,  kaki, dan panjang. Judul buku lebih cenderung menggunakan bahasa populer, santai dan singkat. Paling tidak maksimal 5-6 kata.

Sebagai contoh, judul Skripsi "Efektivitas metode SEM berbasis Mind Map untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah siswa mata pelajaran Kimia kelas X SMA".

Ketika diubah menjadi judul buku, menjadi :

" Mudah belajar Sains dengan metode SEMMI " judul menjadi lebih singkat, namun tidak mengubah arti dari judul karya ilmiah yang dibuat.

2.      Ubah daftar isi

Biasanya untuk beberapa karya ilmiah, daftar isi berupa

BAB 1 Pendahuluan berisi latar belakang masalah, tujuan, manfaat, batasan masalah

BAB 2 landasan teori

Bab 3 metode penelitian yang berisi rumus-rumus statistika

Bab 4 hasil dan pembahasan

Bab 5 penutup yang berisi kesimpulan dan saran.

Namun, ketika diubah menjadi BUKU, daftar isi menjadi : (ikuti pedoman 2W+1H)

Bab 1 (why) menjelaskan pentingnya, alasan penggunaan metode itu untuk pembelajaran. Masalah pembelajaran Sains selama ini, dll.

Bab 2 (what) menjelaskan apa itu, karakteristik, ciri khas, dari metode/media/model yang menjadi fokus dari tulisan.

Bab 3,4,5, dan seterusnya (how) menjelaskan bagaimana tahap pembuatan, bagaimana hasil pembuatan, bagaimana penerapannya.

Pengembangan materi dapat juga dikembangkan dari bab 2 di KTI.

Sebagai contoh, jika bab 2 KTI yang merupakan landasan teori ternyata berisi

2.1. hasil belajar

2.2. media pembelajaran

2.3. Modul

2.4. metode pembelajaran

2.5 pembelajaran berbasis riset

Ketika menjadi buku dapat dibuat menjadi beberapa bab yaitu

 

Sub bab 2.1. hasil belajar menjadi bab 2 buku

Bab 2 TEORI BELAJAR

2.1. belajar

2.2. permasalahan dalam pembelajaran

2.3. Hasil belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya

 

Sub bab 2.2. media pembelajaran menjadi bab 3 buku

Bab 3 MEDIA PEMBELAJARAN

3.1. Pengertian media

3.2. jenis media

3.3. manfaat media

 

Sub bab 2.3. modul menjadi bab 4 buku

Bab 4 MENGENAL MODUL

4.1.pengertian modul

4.2. karakteristik modul

4.3.sistematika modul

4.4. kelebihan modul

 Dst.

Berikan pengetahuan baru yang terkait dengan isu sekarang. Sebagai contoh, mind map dikaitkan dengan tuntutan pembelajaran abad 21 yang mengharuskan peserta didik memiliki kompetensi 4C yaitu Communications, collaboration, creativity, dan critical thinking. Atau dapat juga dihubungkan mind map sebagai sebuah media efektif dalam pembelajaran di masa pandemi yang notabene jam mata pelajaran dipangkas sehingga guru tidak memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan semua KD yang ada.

Boleh menampilkan hasil penelitian tetapi jangan terlalu banyak. Hasil yang ditulis hanya data penelitian yang penting saja.

Secara kebahasaan dan penyajian, karya ilmiah versi buku haruslah berbeda dengan versi laporan. Susunan dan gaya tulisan bebas terserah penulis, karena setiap penulis memiliki ide dan kreativitas masing-masing sesuai dengan pengalaman dan bahan bacaannya. Semakin literatnya penulis maka akan semakin oke buku yang dia tulis. Hal ini karena membaca, berpikir, dan menulis adalah satu rangkaian literasi yang tidak dapat dipisahkan. Selain itu, kita harus mengupayakan agar pembaca memahami isi buku kita secara lengkap, dan mengena apabila menjadi karya ilmiah kita diubah menjadi buku.

Daftar pustaka boleh menggunakan blog namun situs blog resmi seperti Kemendikbud.go.id, Jurnal ilmiah, e book, atau karya ilmiah lainnya. Namun, hindari menggunakan daftar pustaka berupa blog pribadi dengan domain blogspot, wordpress, dan lain sebagainya.

Karya ilmiah versi buku minimal 70 halaman format A5 dengan ukuran huruf, jenis huruf, dan margin disesuaikan dengan aturan penerbit.

Selain itu, agar tidak terjadi self plagiarisme, kita tidak boleh hanya kopi paste kalimat dalam karya tulis. Kita harus menulis ulang setiap kalimat yang ada dalam karya ilmiah dengan kalimat sendiri tanpa mengubah arti kalimat yang ada dalam KTI asli. Teknik parafrasa akan membantu penulis ketika ingin menuliskan ulang KTI nya menjadi buku.

Dengan demikian, membuat  buku dari karya ilmiah  bukan hanya mengubah cover dan judul saja namun isi sama persis dengan KTI yang sudah kita punya. Hal itu merupakan suatu kesalahan karena akan menjadi self plagiarisme untuk karya kita. Kita harus mengubahnya sesuai dengan aturan yang ada sehingga KTI versi buku tidak akan sama struktur dan isinya dengan KTI aslinya.


No comments:

Post a Comment

  RANGKUMAN KESIMPULAN PEMBELAJARAN KONEKSI ANTARMATERI MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERDASARKAN NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN...